Madam Azza

life is about choices

Untuk Kamu yang Ingin Mengakhiri Hidup: Terima Kasih

skySaya tidak tidak tahu apakah tulisan ini akan mengubah rencanamu, namun itu yang pertama ingin saya sampaikan:
terima kasih sudah bertahan selama ini. Terima kasih sudah berjalan sejauh ini. Kamu hebat dan mengagumkan. Terima kasih sudah menjadi kamu.

Mungkin kamu pikir siapalah saya yang tak tahu penderitaanmu. Kamu benar. Saya tidak tahu apa yang pernah kamu lalui, namun saya punya penderitaan saya sendiri.

Keinginan mengakhiri hidup muncul ketika kelas 6 SD, usia 11 tahun, karena merasa diri ini sudah telanjur rusak. Selama 2 tahun saya mengalami pelecehan seksual. Dan saya yang saat itu terlalu kecil menunggu sekian lama sebelum akhirnya berani bercerita pada Ibu. Bukannya dibela, Ibu malah tak percaya pada saya. Bukan dia menganggap saya berbohong, dia hanya mengira orang itu memperlakukan saya seperti anaknya. Hal semacam pelecehan seksual tak terlintas di kepala ibu saya. Saat itu pun informasi tentang hal tersebut sangat minim. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengatasi masalah itu sendirian.

Pernah main game? Kalau mati bisa diulang kembali kan? Jadi kadang kalau saya sadar telah salah langkah di tengah-tengah permainan, saya sengaja matikan saja, agar bisa mulai lagi dari awal. Di umur 11 tahun, saya pikir itu yang sebaiknya saya lakukan dengan hidup. Matikan, karena jelas saya sudah kalah di awal, lalu mungkin bisa mulai lagi. Saya ingat menganalogikan diri seperti kain putih yang sudah kadung kotor dan menjijikkan, tak berharga. Kalau melihat foto saya di umur segitu, tak akan ada muka saya yang melihat kamera. Kebanyakan menunduk dan terlihat sedih. Saya menjadi seorang pemarah. Marah pada orang tersebut, pada ibu saya, dan pada diri saya sendiri.

Tapi cukup tentang saya. Mari bicara tentang dirimu. Apa yang menyakitimu? Orang tuamu yang tak mengerti dirimu? Mereka yang menuntut banyak hal darimu tanpa memikirkan perasaanmu? Kekasihmu yang mengkhianatimu? Dia yang tak membalas cintamu? Atau campuran dari semua itu?

Aku beritahu kamu satu hal ya: mereka tak sepenting kamu. Yang paling penting dalam hidupmu cuma 1 orang: kamu sendiri. Serius.

Boleh? Tentu boleh!

Tuhan tidak menciptakanmu untuk sengsara. Justeru berbahagia adalah tugasmu. Kamu tahu kenapa? Karena kamu hanya akan benar-benar berbahagia bila sudah menemukan dirimu sendiri. Saat kamu mengenal dirimu, kamu akan mengenal Tuhanmu. Saat kamu mengenal Tuhanmu, kamu akan mengenal dirimu sendiri.

Jadi maaf saja, saya tak menganggap mereka yang mengganggu pikiranmu hingga ingin bunuh diri itu penting. Saya cuma menganggap kamu penting. Dan saya rasa kamu belum mengenal dirimu, seperti saya mengenal kamu. Kamu luar biasa berharga. Kamu luar biasa indah dan menakjubkan. Tiap-tiap dari kita melengkapi satu sama lain. Bisa jadi kamu menganggap saya orang asing, tapi jiwa kita pernah berpelukan pada suatu masa.

Aku tahu kamu pernah terluka.
Aku tahu kamu kecewa.

Dan kalau kamu merasa doamu untuk dibebaskan dari rasa sakit tak dijawab, aku balik bertanya: apakah kamu yakin mata, telinga, dan hatimu terbuka?Apa kamu sudah membuka dirimu untuk menerima cinta dan pertolongan?
Atau kamu terlalu sibuk menutup diri karena takut disakiti kembali? Takut kecewa lagi? Tak percaya pada siapapun dan apapun?

Untukku, kamu hebat.
Apapun yang kamu pernah alami, setidaknya saat ini kamu ada di sini. Kamu telah berjuang sekian lama dengan luka dan beban yang kamu bawa.
Letakkanlah di sini, di sampingku.
Lalu mari kita pilih mana yang masih kau perlukan untuk dibawa, dan mana yang bisa dengan besar hati kau kembalikan pada semesta.

Terima kasih, kamu, sudah menjadi kamu yang terbaik.
Mungkin ada yang tak bisa melihatnya, tapi aku bisa melihatnya.
Aku melihat kerja kerasmu.
Aku melihat usahamu yang sepenuh hati.
Aku melihat betapa inginnya kamu membahagiakan mereka di sekitarmu.
Aku melihat betapa besar hatimu menerima banyak hal yang membuatmu sedih dan kecewa, namun kamu bertahan.

Bila di masa lalu alasanmu bertahan adalah untuk orang-orang yang kamu cintai, yang belum tentu mengerti dirimu, cobalah sekarang bertahan untuk dirimu sendiri. Kasihan kamu.

Kamu sibuk mengurus orang lain, coba sekarang berkaca dan lihat dirimu: kasihan tidak? Siapa yang akan mengurus kamu kalau bukan dirimu sendiri? Siapa yang akan menjaga kamu, kalau bukan dirimu sendiri? Siapa yang akan mencintai dirimu, kalau bukan dirimu sendiri?
Pikirkanlah itu. Kamu harus memperlakukan semua orang dengan baik dan adil, termasuk dirimu sendiri. Aku akan membiarkanmu meresapi semua itu. Beritahu aku kabarmu, atau sapalah aku sekadar untuk ngobrol ini itu.

Sekali lagi, terima kasih. Terima kasih sudah ada di sini. Terima kasih sudah menjadi kamu. Tanpa kamu hidup pasti terasa kurang. Dan bila setelah membaca tulisan ini kamu merasa lebih baik, tolong sampaikan juga ke siapapun yang kamu pikir membutuhkannya.

Tetaplah menjadi kamu, karena kamu teramat istimewa dan berharga.

Dengan segenap cinta dan penerimaan,
Azza.

3 comments on “Untuk Kamu yang Ingin Mengakhiri Hidup: Terima Kasih

  1. adri
    January 2, 2017

    Reblogged this on Penanak Nasi and commented:
    “Bila di masa lalu alasanmu bertahan adalah untuk orang-orang yang kamu cintai, yang belum tentu mengerti dirimu, cobalah sekarang bertahan untuk dirimu sendiri.”

    Like

  2. abangpay
    January 25, 2017

    Terima kasih untukmu juga. Tried my best!

    Like

  3. Misssihombing
    April 16, 2017

    💚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 2, 2017 by in Uncategorized.
%d bloggers like this: